667 Hektare Sawah Terdampak Kemarau, Begini Strategi Pemkab Tangerang Amankan Produksi Beras
Ringkasan & Deskripsi: Pemerintah Kabupaten Tangerang mengakselerasi penyaluran puluhan unit pompa irigasi, ratusan ton pupuk organik, hingga riset pola tanam adaptif guna menyelamatkan produksi gabah dari ancaman kemarau di 17 kecamatan.
TIGARAKSA, wibta.com - Ancaman penyusutan lahan basah akibat kemarau ekstrem mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang melakukan intervensi besar-besaran di sektor hulu pertanian. Langkah strategis ini diambil guna menjaga stabilitas pasokan gabah sekaligus mempertahankan sabuk ketahanan pangan di wilayah Banten.
Berdasarkan catatan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang hingga akhir September 2026, kekeringan telah berdampak pada 667,05 hektare sawah yang tersebar di 53 desa pada 17 kecamatan. Dari luasan tersebut, sekitar 340 hektare mengalami gagal panen (puso) dan 230 hektare lainnya masuk kategori terancam.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengungkapkan bahwa menyusutnya debit air permukaan serta jauhnya jarak sumber air menuju petak sawah menjadi pemicu utama kerawanan tersebut. Meski begitu, intervensi cepat di lapangan berhasil memulihkan 85 hektare lahan dan mengamankan panen di 73 hektare sawah terdampak.
Baca juga: Beri Kejutan Tumpeng HUT ke-81 TNI, Polres Metro Tangerang Perkuat Sinergitas dengan Kodim 0506
"Penyebab akibat tidak ada hujan, tidak ada sumber air, terdampak sumber air tapi sudah mulai kering, atau ada sumber air tapi jauh dari lokasi kejadian," jelas Ujang dalam keterangan resminya, Kamis (15/10/2026).
Guna mencegah meluasnya gagal panen, Pemkab Tangerang mengakselerasi penyaluran Alat Mesin Pertanian (Alsintan) serta Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) kepada puluhan Kelompok Tani (Poktan). Bantuan tersebut bersumber dari kolaborasi pendanaan APBD Kabupaten Tangerang, APBD Provinsi Banten, hingga APBN Kementerian Pertanian RI.
"Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang telah menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian yang bersumber dari APBD dan APBN/Provinsi kepada kelompok tani. Penyaluran bantuan ini sebagai mitigasi kekeringan dalam mendukung peningkatan produktivitas padi agar tetap terjaga di Kabupaten Tangerang," tegas Ujang.
Sepanjang tahun 2026, dukungan mekanisasi yang dikucurkan meliputi 75 unit pompa air, 44 unit traktor roda dua, 14 unit cultivator, 88 unit handsprayer, serta mesin perontok padi (power thresher). Ketersediaan mesin pompa menjadi instrumen krusial bagi petani untuk menyedot sisa cadangan air dari sungai maupun rawa terdekat.
Baca juga: Genap Berusia 31 Tahun, Tirta Benteng Kota Tangerang Siapkan Ekspansi Air Bersih ke Zona 3
Tak hanya perangkat mekanis, ketersediaan bibit yang tahan terhadap cekaman cuaca kering turut diperkuat. Pemkab Tangerang telah mendistribusikan 86.900 kilogram benih padi reguler ditambah 3,6 ton benih unggul dari UPTD Balai Benih setempat.
Dukungan nutrisi tanah juga disuplai secara masif melalui penyaluran 530 ton pupuk organik, 25.825 kilogram pupuk NPK, 20.500 kilogram kompos, serta 90 liter pupuk organik cair. Penggunaan pupuk organik dalam jumlah besar ini sangat efektif membantu struktur tanah mengikat kelembapan lebih lama saat curah hujan rendah.
Di sisi infrastruktur pengairan, pemerintah daerah membangun 26 unit Irigasi Perpompaan (IRPOM) yang ditenagai mesin diesel, listrik, maupun panel surya. Sistem ini dirancang khusus untuk menarik air dari sumber utama yang jauh agar tetap bisa menjangkau persawahan di zona kering.
"IRPOM ini sebagai salah satu intervensi Pemerintah Daerah dan Kementerian Pertanian RI melalui Kelompok Tani untuk membantu penyediaan air, mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan, serta mempermudah akses air yang jaraknya cukup jauh dari lahan pertanian," jelas Ujang.
Baca juga: Terobosan Baru: Indonesia-Rusia Sepakati Pengembangan Teknologi Pertanian Bersama!
Selain IRPOM, intervensi tata kelola air dilengkapi dengan 6 unit Irigasi Perpipaan (IRPIP) berteknologi gravitasi tanpa pompa serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier di 23 lokasi. Pemanfaatan cadangan air bawah permukaan juga dioptimalkan melalui 22 unit Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang telah beroperasi sejak 2025.
"Kami juga memberikan sumur pantek sebanyak 4 unit yang berfungsi mengairi sawah di daerah yang sulit dijangkau irigasi permukaan saat musim kemarau. Dinas Pertanian juga memberikan bantuan sumur bor di beberapa titik lahan pertanian sebanyak 2 unit," ucapnya.
Pendekatan infrastruktur tersebut turut dipadukan dengan inovasi riset pertanian modern. Pemkab Tangerang kini menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Swiss German University (SGU), serta Syngenta Indonesia untuk menerapkan pola tanam alternatif yang lebih hemat air.
Sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan praktisi agronomi ini diharapkan mampu memodernisasi cara kerja petani lokal dalam menghadapi anomali iklim. Pendampingan penyuluh pertanian juga terus diperketat agar transisi penggunaan varietas padi tahan kering memberikan hasil panen yang optimal.
Baca juga: Pekon Tanjung Rusia Timur Adakan Pengajian Rutin dan Halal Bilhalal
"Bantuan sarana produksi pertanian baik Alsintan, Saprodi, pupuk, dan bantuan benih merupakan langkah-langkah mitigasi kekeringan pada sektor pertanian oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang, Pemerintah Provinsi Banten, dan Kementerian Pertanian RI dalam upaya teknis, infrastruktur, hingga penyesuaian pola tanam untuk menjaga produktivitas di saat musim kemarau ini," tutup Ujang.
***
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0
Komentar (0)