Konsultan Pendidikan Bongkar Sistem Kuliah S1 Tanpa Ijazah SMA, Mirip Kasus Gibran
Konsultan pendidikan Monic Christian menjelaskan bahwa seseorang bisa mendapatkan gelar S1 di luar negeri tanpa ijazah SMA melalui jalur pathway. Penjelasan ini merespons putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
JAKARTA, wibta.com - Polemik seputar riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik pasca-putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan tidak ada bukti Gibran memiliki ijazah setara SMA. Menanggapi isu yang hangat diperbincangkan ini, seorang konsultan pendidikan, Monic Christian, memberikan pencerahan mengenai sistem pendidikan di luar negeri yang berbeda dengan Indonesia.
Melalui unggahan di akun TikTok-nya @monicchristian, Monic menjelaskan bahwa sangat mungkin bagi seseorang untuk meraih gelar strata satu (S1) meskipun tidak mengantongi ijazah SMA.
"Kok bisa? Ya pasti bisa. Aku sendiri juga enggak punya ijazah SMA karena aku masuk dari pathway, lalu aku pindah langsung ke S1," ungkap Monic menceritakan kemiripan riwayat pendidikannya dengan Gibran. Berkat jalur tersebut, ia berhasil meraih gelar S1 di usia 20 tahun.
Monic menjabarkan perbedaan mencolok antara kurikulum internasional seperti Cambridge, International Baccalaureate (IB), dengan kurikulum nasional Indonesia. Pada sistem Cambridge, siswa yang mengambil level O Level dapat lulus lebih cepat. Setelah itu, mereka tidak perlu melanjutkan SMA secara konvensional, melainkan bisa langsung masuk ke jalur pathway.
Dalam jalur pathway ini, siswa akan mengambil program Certificate IV selama 8 bulan, dilanjutkan dengan program diploma selama 8 bulan pula.
"Dari diploma kalau kuliah di Australia bisa langsung masuk tingkat dua dan lulus S1 dalam waktu 2 tahun aja," jelas Monic.
Sementara itu, bagi siswa yang menempuh kurikulum IB atau kurikulum merdeka, mereka harus menyelesaikan pendidikan hingga kelas 11 sebelum dapat melanjutkan ke program Certificate IV dan diploma. Setelah menyelesaikan program tersebut, mereka juga bisa langsung masuk ke perkuliahan tingkat dua.
Monic juga menepis keheranan publik mengenai kemungkinan seseorang berkuliah di Singapura namun mendapatkan ijazah S1 dari negara lain. Menurutnya, kerja sama antar-universitas lintas negara adalah hal yang lumrah di dunia pendidikan internasional.
"Bisa banget. Jangankan seperti itu, PTN ternama kita Universitas Indonesia aja ada kerja sama lho sama Australia. Jadi kuliahnya di Indonesia terus dapat ijazah juga dari Australia. Karena universitas itu banyak banget yang udah kerja sama antar-negara," pungkasnya.
***
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0
Komentar (0)