Karhutla Ancam Orangutan Kalimantan: Novita Berjuang Pulih dari Luka Bakar, Sampurna Mati Sesak Napas
JAKARTA, wibta.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia menjadi ancaman mematikan bagi kelangsungan hidup satwa liar, khususnya orangutan Kalimantan.
Ratusan primata endemik ini kini berjuang di ambang maut akibat kehilangan habitat, paparan kabut asap pekat, hingga menderita luka fisik serius.
Kisah memprihatinkan dialami oleh Novita, seekor anak orangutan betina berusia sekitar tiga hingga empat tahun.
Ia ditemukan bertahan hidup seorang diri di atas pohon yang nyaris tak berdaun akibat kepungan asap tebal di kawasan hutan Katune, Kalimantan Tengah.
Berdasarkan laporan Associated Press (AP), proses evakuasi Novita dilakukan dalam kondisi darurat. Anak orangutan tersebut menderita luka bakar pada telapak tangan dan kakinya, yang diduga kuat terjadi saat ia terpaksa melintasi tanah dan dahan yang hangus terbakar demi mencari tempat berlindung.
Saat ini, Novita tengah mendapatkan perawatan intensif di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng di Palangka Raya. Tim medis membiusnya untuk memberikan pasokan oksigen serta cairan intravena (infus).
Pemulihan luka di bagian ekstremitas menjadi fokus utama, mengingat tangan dan kaki sangat vital bagi orangutan untuk memanjat, bergelantungan, dan mencari makan di alam liar.
Sayangnya, nasib baik tidak berpihak pada semua satwa. Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, seekor orangutan jantan dewasa berusia 20 tahun yang diberi nama Sampurna ditemukan dalam kondisi kritis di area perkebunan kelapa sawit pada awal September lalu. Kawasan tersebut saat itu tengah dikepung karhutla hebat.
Meski berhasil dievakuasi, kondisi fisik Sampurna yang melemah akibat kesulitan bernapas memaksanya mengembuskan napas terakhir hanya beberapa jam setelah diselamatkan.
Mengutip data Kementerian Kehutanan, hingga 10 Oktober 2026, lebih dari 270 satwa liar di Kalimantan dilaporkan telah ditangani mulai dari proses evakuasi, rehabilitasi medis, hingga relokasi ke habitat yang lebih aman.
Besarnya skala penyelamatan ini berbanding lurus dengan masifnya luas lahan yang terbakar akibat diperburuk oleh kondisi iklim El NiƱo yang membawa kemarau panjang.
Terkait luasan area terdampak, data pemerintah mencatat lebih dari 202.000 hektare lahan telah terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Di sisi lain, proyek pemantauan berbasis satelit Nusantara Atlas memperkirakan angka yang jauh lebih masif, yakni hampir 896.000 hektare lahan hangus terbakar hingga akhir Agustus 2026.
Menyusutnya tutupan hutan secara drastis ini menimbulkan efek domino. Ketika sumber pangan di dalam hutan habis terbakar, orangutan terpaksa keluar mendekati permukiman atau perkebunan warga, yang berisiko tinggi memicu konflik dengan manusia.
Ketua BOSF, Jamartin Sihite, menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api.
Evakuasi satwa juga hanyalah pertolongan pertama yang tidak akan menyelesaikan akar masalah jika habitat alami mereka hancur.
Perlindungan sejati bagi populasi orangutan Kalimantan sangat bergantung pada upaya konkret dalam mencegah kebakaran berulang, menjaga kelembapan lahan gambut, serta memulihkan ekosistem hutan sebagai rumah terakhir mereka.
***
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0
Komentar (0)