Realisasi Bedah Rumah Kota Tangerang Capai 75 Persen, Lansia 90 Tahun Kini Tak Cemas Saat Hujan
TANGERANG, wibta.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus memacu penyelesaian program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) guna menjamin ketersediaan tempat tinggal yang aman bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Memasuki triwulan keempat tahun 2026, realisasi program bedah rumah tersebut tercatat telah menembus angka 75 persen dari total target 1.000 unit.
Capaian tersebut menandakan sekitar 750 unit hunian warga prasejahtera yang tersebar di 13 kecamatan se-Kota Tangerang kini telah bertransformasi menjadi rumah sehat. Akselerasi yang digawangi oleh Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Tangerang ini menjadi sangat krusial mengingat wilayah Tangerang mulai memasuki peralihan musim penghujan.
Fokus peremajaan fisik bangunan dalam program ini meliputi perbaikan menyeluruh pada komponen atap, lantai, dan dinding (Aladin). Selain memperkuat struktur bangunan agar tahan terhadap cuaca ekstrem, renovasi juga diarahkan untuk memperbaiki sirkulasi udara, sanitasi, serta pencahayaan alami di dalam rumah.
Baca juga: Pemerintah Bentuk Kementerian Koperasi, Dorong Kebangkitan Ekonomi Desa
Manfaat nyata dari intervensi sosial ini dirasakan langsung oleh warga lanjut usia (lansia) di wilayah Kecamatan Pinang. Salah satu penerima manfaat, Nisa binti Imam (90), warga Kelurahan Panunggangan Utara, kini dapat menikmati masa tuanya di bawah atap hunian yang kokoh dan bebas bocor.
Sebelum tersentuh program bedah rumah, tempat tinggal yang telah dihuni Nenek Nisa selama puluhan tahun tersebut mengalami kerusakan struktural yang cukup berat. Bagian atap yang lapuk, dinding retak, serta alas lantai yang rusak kerap membuat air hujan merembes masuk dan mengganggu waktu istirahatnya.
“Alhamdulillah, sekarang kalau hujan sudah tidak lagi kebocoran. Jadi bisa istirahat dengan enak, nyaman, dan aman tanpa harus khawatir kalau hujan tiba. Pokoknya terima kasih kepada semua yang telah membantu,” ujar Nisa saat ditemui di kediamannya, Jumat (16/10/2026).
Perubahan kondisi tempat tinggal tersebut memberikan ketenangan fisik maupun psikologis bagi lansia berusia sembilan dekade itu. Ketersediaan hunian yang kering dan bersih sangat menentukan kualitas kesehatan kelompok rentan agar terhindar dari berbagai risiko penyakit bawaan lingkungan lembap.
Baca juga: Gubernur Kalteng Tegaskan Program Satu Rumah Satu Sarjana Akan Dijalankan
Kecepatan eksekusi program di tingkat tapak turut mendapat apresiasi dari pengurus lingkungan setempat. Ketua RT 04/RW 01 Kelurahan Panunggangan Utara, Margono, menilai kepedulian Pemkot Tangerang sangat tepat sasaran dalam menjamin hak papan bagi lapisan masyarakat paling bawah.
Menurut Margono, proses rekonstruksi rumah Nenek Nisa berlangsung jauh lebih singkat dari estimasi normal yang rata-rata memakan waktu satu bulan. Berkat kesiapan distribusi material dan efisiensi tenaga kerja, rumah tersebut tuntas direnovasi dan langsung siap dihuni.
“Rumahnya sendiri direhabilitasi bulan kemarin, kalau prosesnya sangat cepat, kurang lebih hanya dua minggu. Selama prosesnya juga dibantu sebagian warga dan keluarga agar Nenek Nisa bisa segera mempunyai rumah yang layak ditinggali,” tambah Margono.
Keterlibatan aktif warga sekitar dalam membantu proses pengerjaan mencerminkan kuatnya budaya swadaya dan gotong royong di lingkungan permukiman Kota Tangerang. Pola kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat ini terbukti efektif memangkas waktu konstruksi sekaligus mempererat kepedulian sosial antarwarga.
Baca juga: 667 Hektare Sawah Terdampak Kemarau, Begini Strategi Pemkab Tangerang Amankan Produksi Beras
Dalam pelaksanaannya, Disperkimtan Kota Tangerang menerapkan proses verifikasi berlapis mulai dari pengusulan Musrenbang tingkat kelurahan hingga survei teknis di lapangan. Langkah ini dilakukan guna memastikan penerima bantuan benar-benar masuk kategori keluarga prasejahtera serta bangunan berdiri di atas lahan yang tidak bersengketa.
Program perbaikan RTLH ini juga menjadi salah satu instrumen utama Pemkot Tangerang dalam menekan angka kemiskinan ekstrem dan menata kawasan permukiman kumuh perkotaan. Kelayakan tempat tinggal dinilai sebagai fondasi dasar untuk meningkatkan standar hidup, kesehatan, dan produktivitas keluarga.
Dengan sisa kuota sekitar 25 persen atau 250 unit rumah lagi, Disperkimtan optimistis seluruh target 1.000 unit RTLH dapat rampung seratus persen sebelum penutupan tahun anggaran 2026. Pengerjaan fisik di sejumlah titik tersisa kini terus dikebut secara paralel di berbagai kelurahan.
Masyarakat yang menemukan kondisi hunian warga lansia atau keluarga prasejahtera yang memprihatinkan juga didorong untuk aktif berkoordinasi melalui pengurus RT/RW maupun kanal pengaduan resmi pemerintah daerah. Partisipasi aktif perangkat lingkungan menjadi kunci agar pendataan kuota bedah rumah pada periode berikutnya semakin merata.
Baca juga: Bupati Wahono Beberkan 10 Isu Strategis Lima Tahun Dalam Sertijab Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro
Melalui penuntasan target seribu unit bedah rumah ini, Pemkot Tangerang berharap tidak ada lagi warga yang harus bertahan di bawah atap rawan roboh saat puncak musim hujan tiba. Pemerataan kualitas infrastruktur permukiman ini diharapkan terus berlanjut demi mewujudkan kota yang inklusif dan layak huni bagi seluruh lapisan masyarakat.
***
Apa Reaksi Anda?
Suka
1
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Wow
0
Sedih
0
Marah
0
Komentar (0)